IKNNews.co, Kutai Timur — Aksi boneka hidup atau manekin manusia yang beraksi di beberapa titik lampu merah di Sangatta kembali ditertibkan oleh Satpol PP Kutai Timur (Kutim). Namun kali ini, penanganannya dilakukan dengan pendekatan sosial dan pembinaan, bukan sekadar penindakan.
Kepala Satpol PP Kutim, Fata Hidayat, menuturkan bahwa fenomena ini sudah lama menjadi perhatian karena berpotensi membahayakan keselamatan pelaku dan pengguna jalan. “Kami tidak ingin hanya menertibkan. Kami ingin mereka berhenti karena sadar, bukan karena takut,” ujarnya.
Menurut Fata, sebagian besar pelaku berasal dari luar daerah dan melakukannya karena alasan ekonomi. Untuk itu, Satpol PP bekerja sama dengan Dinas Sosial untuk melakukan pembinaan dan memberikan alternatif penghidupan.
“Kami bantu koordinasikan agar mereka bisa dialihkan ke program sosial atau pekerjaan lain yang lebih aman,” tambahnya.
Penertiban dilakukan secara bertahap dengan cara humanis. Petugas menegur, memberi imbauan, lalu melakukan tindakan apabila peringatan tidak diindahkan.
Fata Hidayat menegaskan bahwa upaya menjaga ketertiban tidak boleh mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam setiap penanganan di lapangan, Satpol PP Kutim tetap mengedepankan sikap empati dan pendekatan humanis, dengan memahami bahwa di balik setiap pelanggaran sering terdapat persoalan sosial yang perlu diselesaikan secara bijak.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan uang kepada pelaku di jalanan, karena hal itu justru memperpanjang praktik tersebut.(ADV)
![]()










